Kau katakan jika kau bisa terbang,
kau tak akan pernah kembali
menuju ketempat itu, di langit biru
kau tidak pernah ingat "kesedihan"
Baru saja aku mulai untuk memahami "sakit",
bahkan setiap perasaanku ku pasrahkan untukmu
Apakah sekarang hanya akan berubah menjadi kata-kata
Ketika kau terbangun
dari mimpi di dunia yang tak dikenal
Kau langsung terbangun dan terbang pergi
Jadi kau mencoba terbebas dari langit biru itu.
Dengan suara seperti itu semua sudah pergi
jendela tua dan berkaratpun pecah
Lihat, kau begitu muak ketika..
melihat tempat yang telah kau buang
Tanpa pernah melihat ke belakang lagi
getaran yang keras itu mencabut nafasmu
Dan kau menghancurkan jendela yang terbuka
dan meninggalkannya begitu saja
kau berkata bahwa
kau dapat berlari mendapatkannya
kau terpengaruh oleh suara yang sangat jauh
Hal yang menangkap tanganmu yang terlalu menyilaukan
Sampai kau mengejar langit biru itu
Aku mengetahui bahwa kau telah jatuh
Tapi kau masih terus mengikuti cahaya menyilaukan itu
Asa yang Terbawa Angin
Apakah
kau pernah menyukaiku? Hal itulah yang kadang aku lamunkan seketika melihat
foto gadis impian di tengah hiasan rembulan malam. Sosoknya yang selalu
terbayang-bayang seakan membingkai hati
ini. Putri, nama nya seolah mengartikan juga paras wajahnya yang cantik. Make up nya yang sederhana membuat mata
ini terbelalak dalam kehampaan sebuah cinta. Namaku Adi, Aku yang hanya
berstatus mahasiswa dengan uang pas-pasan seperti tak mampu menjangkau dirinya
yang sehari – hari di antar dengan mobil mewah.
Hari
baru pun dimulai, aku telah bersiap-siap untuk berangkat kuliah dengan tampilan
seadanya dan semerbak bau minyak wangi melekat di pakaianku. Ketika hampir tiba
di kampus, tiba-tiba lewat sebuah mobil mewah yang sepertinya tidak asing lagi
bagiku. Oh, ternyata itu mobil antar jemput Putri. Pintu mobil perlahan terbuka
dan Putri pun turun.
Dengan
agak gugup, ku dekati dia dengan membuang semua rasa malu. Sapaan hangatku
membuka awal percakapan di pagi itu.
“Pu-putri,
sama-sama aja yuk masuk ke kelas?”,
ajakku dengan agak terbatah-batah
Dia
melontarkan senyum indah, seolah-olah ingin membalas pertanyaan itu. Tapi dia
terus berjalan kedalam kelas dengan menghiraukanku.
“Ah,
sial” gerutuku kecil. Tapi dengan semangat untuk mendapatkan tempat di hatinya,
aku melanjutkan berjalan dengan gagahnya.
Dia
yang satu kelas denganku dan yang lebih beruntungnya lagi kursi nya tepat
berada di sebelahku. Sesekali aku menyempatkan diri melirik ke arahnya
ditengah-tengah pelajaran berlangsung. Seketika aku kaget karena dia menolehkan
wajahnya kearahku. Jantung ini berdegup lebih kencang dari biasanya karena malu
yang luar biasa.
Waktu
terasa bergerak cepat, akhir perkuliahan pun di umumkan.
Tapi
putri masih duduk di kursinya, aku terkejut ketika ada air yang mengalir di
ujung matanya. Aku penasaran apa yang membuat dia menangis. Tak lama kemudian
aku bertanya.
“Loh,
kok nangis put? Ada masalah apa?” tanyaku dengan nada sendu.
“Ga
apa apa kok, Cuma keinget sama mantanku aja” Jawabnya dengan singkat.
Saat
itu juga, pecahan harapan yang kukumpulkan selama ini seakan terlepas dari
genggaman. Emosi pun meluap-luap, tak ada lagi yang bisa ku katakan. Aku segera
meninggalkan dia di ruangan sendirian tanpa memikirkan apa-apa lagi mengenai
dirinya.
Malam
pun tiba, aku kembali terbayang akan situasi pada siang hari tadi. Jujur aku
menyesal karena tidak ada sikap dariku untuk menghibur dirinya. Aku hanyalah
seorang pengecut dengan impian yang besar. Kulihat
jam dinding sudah menunjukkan jam 12.00 malam, hal itu terus menggerayangi
pikiran sampai-sampai aku tidak bisa tidur.
Keesokan
harinya,
Tak
kulihat mobil yang biasa mengantar putri, begitupun ketika jam perkuliahan.
Terdengar kabar bahwa dia sedang tidak enak badan.
Ketika
pulang, kusempatkan diri untuk mengunjungi rumahnya. Sampai di depan pintu, aku
membunyikan bel dan mengucapkan salam.
“Selamat
siang” Berkali-kali aku teriak, dan tak lama kemudian terdengar seseorang
membukakan pintu.
“Iya,
selamat siang. Mau cari siapa ya?” Ujar seorang ibu yang sudah agak tua
bertanya kepadaku.
“Ehm,
mau cari putri bu. Saya teman satu kelasnya, karena tadi saya dengar dia lagi
sakit makanya saya datang untuk menjenguk putri” Jelasku agak panjang.
“Oh,
sebentar ya saya panggilkan dulu putrinya” Jawab ibu itu dengan nada yang sopan
Tak
lama kemudian keluarlah putri mengenakan pakaian rumahnya yang khas, dia terlihat
lebih cantik dengan dandanan seperti itu.
“Kamu
sakit apa put?” tanyaku langsung padanya.
“Ga
kok, aku baik-baik saja. Cuma agak pusing sedikit” paparnya.
“Di,
aku sekitar 1 minggu lagi mau pindah ke luar negeri” Sambungnya dari penjelasan
tadi.
Aku
terkejut kenapa dia memberitahukan hal itu kepadaku.
“Loh,
kok tiba-tiba gitu sih? Memangnya mau ngapain keluar negeri?” Tanyaku beruntun.
“Papa
ingin memindahkanku kuliah keluar negeri, jadi aku ga bisa apa-apa lagi”
Jawabnya pasrah.
Aku
pun terdiam sesaat, karena dipikiran ku, aku belum melakukan sesuatu yang
berarti kepada dirinya. Yang kulakukan selama ini hanyalah bersembunyi di balik
kegelisahan. Beberapa jam kami habiskan untuk saling berbagi cerita, dan salah
satunya mengenai alasan kenapa papanya memutuskan hal tersebut secara sepihak. Disatu
sisi aku sedih tapi untuk beberapa hari kedepan sebelum keberangkatannya, aku
akan berusaha membuat suatu kenangan yang mungkin akan sulit untuk dilupakan.
Selang
beberapa hari semenjak aku mengunjungi keadaan putri, dia telah terlihat
baikan. Bahkan dia bisa tersenyum lepas lagi seperti biasanya.
Saat
perkuliahan usai tepat di hari itu, aku langsung mengajak putri untuk
berjalan-jalan di atas bukit. Kami memandangi indahnya kota dari atas, terlihat
raut wajahnya begitu senang. Karena belum ada laki-laki yang mengajaknya
ketempat seperti itu.
Tak
lama setelah itu, ku beranikan diri untuk mengungkapkan perasaanku kepadanya.
Ku dekati dia dan ku pegang tangannya.
“Putri,
sebenarnya aku selama ini memendam rasa kepadamu. Aku begitu mencintaimu, tapi
selama ini aku sadar bahwa aku bukanlah laki-laki dengan kehidupan yang
bergelimang harta.” Ungkapku dengan menggebu-gebu, karena hanya ini hal
terakhir yang bisa kulakukan untuknya.
Dia
sontak menangis terseduh-seduh, aku bingung. Apa aku salah dalam berucap?
Tanyaku dalam hati.
Perlahan
bibirnya mulai bergerak untuk mengucapkan sesuatu.
“Adi,
Kenapa baru kamu ungkapkan sekarang? Aku selama ini juga mempunyai rasa yang
sama seperti dirimu. Aku tak peduli dengan hartamu, asalkan kamu bisa membuatku
tersenyum itu sudah membuatku bahagia” Jelasnya kepadaku. Aku terkejut setangah
mati mendengar kalimat itu.
“Ya
tuhan, kenapa ini terjadi kepadaku. Kenapa keadaan ini tidak kusadari dari
dulu!” Kicauku kesal dalam iringan
tangis.
Setelah
menenangkan keadaan, kami pun pulang kerumah masing-masing.
Dan
keesokan harinya adalah hari dimana putri akan berangkat keluar negeri.
Pagi-pagi sekali aku bersiap dan bergegas kerumah Putri untuk menyaksikan
keberangkatannya. Tanpa menghiraukan lagi rambu lalu-lintas, aku langsung
tancap gas penuh dengan motor bututku. Tak lama kemudian tibalah didepan rumah
Putri, tapi tak terlihat satu orang maupun kendaraan yang biasanya terpampang
dihalaman rumahnya.
Beberapa
detik kemudian terlihat seorang bibi yang sedang membersihkan taman kecil yang
ada di lingkungan rumah Putri. Kupanggil bibi itu dan langsung bertanya.
“Bi,
numpang nanya nih. Putrinya kemana ya?” Tegasku langsung.
“Oh
Putri, baru saja pergi ke bandara dengan keluarganya.” Jawab bibi itu.
Tak
berpikir panjang, langsung kupacu sepeda motorku kearah bandara. Setiba di bandara,
aku langsung mencari-cari rombongan keluarga Putri. Akan tetapi sudah terlalu
banyak orang lalu lalang sehingga sulit bagiku untuk menemukan keberadaannya.
Aku sempat lemas tak berdaya, sampai seketika terlihat raut wajah murung Putri
lewat didampingi kedua orang tuanya menuju tempat pengantaran terakhir
penumpang. Aku langsung menerobos petugas-petugas pemeriksaan yang ada disana.
“Putriiiiii!!”
Teriakku panjang memanggil namanya dari jauh.
Dia
sempat menoleh dan air mata pun tak bisa lagi tertahan di matanya.
“Aku
akan selalu disini untuk menunggu kepulanganmu” Lanjut perkataanku.
Memang
dia sempat terhenti sejenak, tapi tak lama kemudian melanjutkan berjalan
memasuki pesawat. Aku seperti mengerti perasaannya saat ini. Sakit hati didalam
kehidupan yang penuh dengan paksaan. Akhirnya pesawat yang ditumpangi Putri
lepas landas menuju negara yang dituju.
Aku
pun kembali ke kehidupan awal, kuliah tanpa seseorang yang bisa memotivasiku
untuk lebih semangat. Hari demi hari pun kulalui seperti tak ada tujuan.
=====
4 Tahun Berlalu =====
Saat
memasuki dunia kerja dan aku mulai melupakan bayang-bayang Putri, hidupku mulai
teratur kembali seperti sediakala.
Beberapa
saat berlalu, sempat terdengar tentang kepulangan Putri dari luar negeri. Aku
antara terlihat senang namun sakit yang lama ini sudah mulai terkubur, perlahan
mulai menampakkan lagi jatinya. Karena yang kutahu ada 2 kabar, yaitu kabar
baik dan kabar buruk. Kabar baiknya dia akan menetap selama beberapa hari
kedepan dirumah lamanya, jadi aku bisa mengunjunginya untuk melepaskan rindu.
Dan kabar buruknya Putri telah menikah dengan orang yang pasti lebih baik
dariku.
Antusiasme Pria Sejati
Aku merupakan salah satu mahasiswa sebuah perguruan tinggi negeri di Sumatera Selatan, namaku J. Di kampus biasanya orang memanggilku dengan sebutan "Pujangga Cinta", itu dikarenakan pergerakanku yang terlalu bersemangat dalam mencari CINTA :D. Tak lepas dari itu, aku seringkali di permainkan teman-teman 1 kelas dengan guyonan yang sedikit agak JLEB. Pagi itu, aku bersama seorang yang bisa dikatakan sahabatku "sebut saja Jokowi" pergi bersama ke kampus. Tapi walaupun di katakan seorang sahabat, dia ternyata juga tak segan-segan mem-bully ku. Langkah kakipun tak berasa sampai ketika sudah berada di kampus, terlihat teman-teman sedang berkumpul d luar kelas.
--Tiba-tiba-- *dengan backsound horror*
"Woi J, mana tuh inceran lo?" salah satu dari mereka menyapa dengan tawa terbahak-bahak.Aku menoleh sedikit dengan muka masam dan melanjutkan untuk masuk ke dalam kelas.
Sahabatku pun ikut tertawa tanpa memikirkan perasaanku yang tersiksa ini.
"Jokowi, aku duduk disana ya" dengan memasang wajah chubby aku meletakkan tas ke kursi tujuanku
"Loh, ga mau di sebelahku ya?" jawabnya dengan nada agak kecewa. Tapi aku tahu di dalam pikiran nya, sudah tersimpan niat untuk mem-bully di tengah2 jam perkuliahan.
"Ntar aja deh, nunggu aku dapet pacar. Hahaha" candaku padanya.Dikelas kami, semua anak seperti membuat grup dalam pertemanan. Dan dari setiap grup didalam kelas terdapat inceranku *maruk banget kan? :D*.
Hari ini sebenarnya saya sudah menyusun rencana untuk menembak salah satu cewek *entah di grup yang mana* *Sebut saja Mawar*. Pada jam istirahat, dia terlihat sedang duduk sendiri di dalam kelas. Aku pun bergegas duduk disampingnya.
"Mawar, ada yang mau ku omongin nih" tatapku dengan wajah dengan keringat yang "bochor".
"Hmm? Mau ngomong apaan?" jawabnya dengan santai.
"Gini, sebenarnya aku sudah lama suka sama kamu. Dimanapun kamu berada, aku selalu memperhatikan kamu. Jadi, kamu mau ga ngelepas status lajangmu denganku?" dengan agak lebay dan berkeringat yang hampir kayak banjir akhir-akhir ini aku bertanya.
Dia terlihat agak kaget mendengar pengutaraan cintaku. Beberapa menit kami sempat tak mengeluarkan kata-kata."Anuu.." jawabnya terputus. Baru 1 kata keluar, tapi jantung uda kayak mau lepas.
"Aku belum boleh pacaran sama ortu. Maaf ya" sambungnya dengan menggunakan alasan klasik yang biasa digunakan untuk menolak seorang pria secara tidak langsung.
Aku paham betul dengan jawaban seperti itu, karena pengalaman ku sudah di level "Hard" dalam penolakan *Sedih banget ya*.
"Yah udahlah gapapa kalo itu memang kehendak ortu mu" jawabku tersenyum. Karena sudah terbiasa di tolak, jadi santai aja deh. Aku pun mencari-cari alasan untuk beranjak dari tempat itu karena alasan harga diri. #Cuihh
Yah setidaknya ituah gambaran dari sebutan "Pujangga Cinta" yang di bilang sama teman-temanku. Penolakan itu terus terulang disetiap wanita yang berbeda. Aku seperti terkena kutukan dewa romawi *lebay, alay, ngaco".
NOTE: Apabila terdapat kesamaan nama dan karakter, itu namanya takdir.
Tenshi, I'm Hurt !
Malaikat, selama ini kurasakan terus bersanding di sampingmu. Keindahan lekuk sayapmu menyempurnakan kekagumanku padamu. Dirimu terbang tinggi membelah langit menjadi dua bagian. Ketika ku pandangi matamu yang tajam bagaikan ujung sebuah "KATANA" yang siap merobek mental siapapun yang berani melihatmu. Diriku sempat ragu, gentar, bimbang dan tatkala berpikir bagaimana menaklukan mata itu. Saat malam hari datang, tanpa kamu sadari aku terus memandangimu meskipun hujan yang deras memudarkan sosokmu dari hadapanku. Kamu yang asik dengan pekerjaanmu sebagai malaikat terkadang membuat diri ini terus terasa sepi.
Hujan turun seperti biasanya, tapi hati berkata lain dan ingin menyendiri. Suara gemuruh petir membuatku takut, aku terus tertunduk dengan pikiran yang kosong. Tak ada lagi cahaya, tak ada lagi sorotan mata itu, tak ada lagi perasaan hati yang berdegup kencang. Semua terasa datar mengalahkan tenangnya sebuah lautan. Dingin semakin meradang dan aku telah terbiasa dalam kesendirian ini. Rautan sebuah wajah murung itu tak lagi menempel di bagian kepala ini, senyum penderitaan pun datang tanpa henti.
Suatu ketika kamu terbang melewati tempatku, bagian bulumu tak sengaja lepas dan berlabuh di persinggahanku. Memori yang selama ini hampir terkubur dalam, akhirnya kembali menyeruak. Aku tak bisa menahan rindu, dia tak tahu betapa berharganya sebuah bulu tersebut bagiku. Aku menderita di dalam dilema seorang manusia. Ku tahu ku tak bisa meraihmu di ketinggian, tapi biarkanlah bulu- bulu itu terus berjatuhan dan pada akhirnya akan habis. Dan pada saat itu kamu akan merasakan bagaimana sesuatu yang berharga bagimu telah hilang.
Aku berharap dulunya, kamu bisa duduk di depanku, mendengarkan keluh kesahku, saling bertatap mata. Tapi itu semua hanya sebuah mimpi.
Kini aku telah memegang sebuah kunci untuk beranjak ke sebuah dimensi baru. Tapi aku masih berharap untuk yang terakhir kalinya ketika lewat, kamu akan berhenti dan mengetahui bahwa bulu - bulu yang selama ini berharga bagimu telah ku susun rapi dan telah siap untuk kamu ambil kembali dari persinggahanku :)
Sisi Putih dari Kegelapan
LINstory -
Saat dunia mulai terkecoh dengan sandiwara mahluknya, aku masih tetap disini dengan pendirian yang tegar. Kefanaan dunia ini sudah terlihat begitu jelas ketika angin membawa semua bersamanya. Rerumputan hijau yang ditiup seakan tertawa terbahak-bahak dikala aku dirundung rasa gelisah, bunga yang ku rawat hampir setiap hari pun layu karena tak sanggup melawan waktu. Aura kesedihan terus bergejolak tatkala arang yang dibakar terus menerus sampai menjadi abu. Genggaman tangan ini semakin melemah, tak ada setetes air yang memberikan kehidupan nyata. Sungai yang selama ini kukagumi perlahan mulai surut. Entah itu karena hujan yang tak kunjung turun atau terlalu besarnya muara yang dilewati sampai-sampai ranting-ranting yang hanyut tak sempat berlabuh.
Gurauan hewan di sekitarku terkadang membuatku seperti lampu yang akan putus, mati dan kemudian hidup kembali berharap ada keajaiban yang datang menolong. Disaat asa ku mulai padam, angin datang dengan sesukanya menghujam kehampaan ini, ia dengan seenaknya memporak-porandakan hati yang awalnya kupercaya mampu terus bertahan dengan keadaan yang terpuruk. Tak jarang kegelapan lah yag lebih mengerti tentang buruknya dunia ini, bersandar di belakangku, seolah olah ingin menceritakan bahwa ia tak seperti yang orang pikirkan. Ia mengajari bagaimana cara bertahan hidup dan mendewasakan aku dengan ucapan-ucapan bijak nya.
Begitu juga dengan bintang yang selama ini kupercaya mampu memberikan celotehannya, sekarang tak mampu lagi berdiri tegak mendampingi malam. Aku kecewa, kesal, bahkan hampir meninggalkan tempat itu. Tapi sesekali aku melihat bayangan yang mengindahkan dirimu yang mengubah cara pandangku. Aku tak tahu sampai kapan bayangan itu akan melekat dan terus mempengaruhiku. Aku yang hanya manusia lemah, tak bisa apa-apa menghadapi takdir Tuhan.
Cerminan Diri
LINstory -
Memang pada awalnya, dunia ini hanyalah tanah yang tidak berisikan kehidupan. Namun saat ini terus bermunculan manusia-manusia, begitu banyak dan berpasang-pasangan. Aku yang melihat itu dari jendela rumah, hanya bisa terdiam tanpa ekspresi. Sesaat aku melihat kecermin, kurasakan aura hitam yang melekat pekat di sekitar tubuh. Tak ada yang menyadari akan kehadiranku. Selalu sendiri sampai kapanpun.
Sesekali angin terdengar berbisik-bisik di telingaku, mengajakku ke alam luar yang katanya sangat menyenangkan. Aku mencoba melangkahkan kaki keluar dari rumah itu, tapi sama seperti yang kurasakan sebelumnya. Walaupun banyak orang disampingku, kehadiranku tetap tak bisa dirasakan. Sedih? mungkin, kecewa apalagi. Semua itu berjalan begitu lamban, tak ada cahaya terang menyinari. Hatiku pada saat ini seperti lapisan es yang begitu tipis dan akan hancur walaupun tersentuh oleh jemari. Semua yang kulakukan selama ini terasa sia-sia, tak ada letak kepedulian mereka terhadapku. Aku seperti terbakar dalam neraka bayangan, bahkan serasa tak sebanding dengan hewan-hewan yang masih bisa tersenyum dalam penderitaannya. Sebegitukan dunia ini memperlakukanku? atau memang semuanya harus ku ulangi dari awal?.
Bahkan terlebih lagi orang yang hampir berada di dekatku pun tak jauh beda dengan yang lainnya, dia yang kupercaya seakan tak bisa merasakan radang kesepian di tubuhku. Mereka asik mengejar mimpi masing-masing, sedangkan aku hanya tertinggal di belakang seorang diri. Tak ada yang mau berpaling muka apalagi menjulurkan tangannya untuk membuatku terasa hidup.
Pintu yang kupercaya dapat membawaku keluar dari temaram ini perlahan-lahan mulai tertutup kembali. Aku hanya bisa mengkerutkan wajahku dan menunggu seseorang atau bahkan beberapa orang mencoba untuk membuka pintu itu.
Memori (Kenangan)
LINpoem -
Datang dan pergi secara diam-diam,
Jauh di dalam kenangan, kumendekam dalam ingatan
Ketika mengingat tentang dirimu
Aku terbiasa dengan pantulan di jendela
Matamu yang memandangi masa depan
Walau kusadari tak bisa lari dari takdir,
aku tidak takut, dan menaruh kepercayaan didalam hatiku
Kau tunjukkan bagaimana caranya
memiliki perasaan yang dalam
Walau dunia ini musnah
ku kan slalu ada di sampingmu
Aku mengembara dalam hujan salju ini
Kamu yang terluka kini tidak sendirian lagi..
Seberapa jauh pun kita terpisah, aku takkan lupa..
Karena kamu mengatakan padaku tentang cahaya itu
Air mataku yang bergelinang adalah bentuk terima kasihku
Janji yang terucap dibawah langit di hari itu takkan pudar
Dalam kenangan jauhku yang perlahan mulai berubah
Dengan masa lalu yang ku genggam, aku memikirkan dirimu
Datang dan pergi secara diam-diam,
Jauh di dalam kenangan, kumendekam dalam ingatan
Ketika mengingat tentang dirimu
Aku terbiasa dengan pantulan di jendela
Matamu yang memandangi masa depan
Walau kusadari tak bisa lari dari takdir,
aku tidak takut, dan menaruh kepercayaan didalam hatiku
Kau tunjukkan bagaimana caranya
memiliki perasaan yang dalam
Walau dunia ini musnah
ku kan slalu ada di sampingmu
Aku mengembara dalam hujan salju ini
Kamu yang terluka kini tidak sendirian lagi..
Seberapa jauh pun kita terpisah, aku takkan lupa..
Karena kamu mengatakan padaku tentang cahaya itu
Air mataku yang bergelinang adalah bentuk terima kasihku
Janji yang terucap dibawah langit di hari itu takkan pudar
Dalam kenangan jauhku yang perlahan mulai berubah
Dengan masa lalu yang ku genggam, aku memikirkan dirimu
Langganan:
Postingan (Atom)
Diberdayakan oleh Blogger.



