Fiction Story

Blog ini hanya berisikan tulisan saya, cerpen, dan puisi. Kalo mau yang lain, berkunjung sama yang lebih ahli deh :)

Sebuah Hologram

Terpikat oleh pemandangan saat ini yang begitu terang..
Aku pun menuju dunia yang masih belum terlihat..
Selama aku kecil, aku mengembara di bawah langit yang berkabung..
Banyak impian ternodai pada peta yang berubah setiap harinya..
Suatu saat, dengan langkahku yang kecil ini..
Aku berharap dapat melewati sisi lain dari awan itu..
Aku berusaha terlihat kuat dan terluka saat kamu melihat hatiku..
Tetesan hujan yang turun kini terpantul berkali-kali dimana-mana.. 
Cahaya lurus yang saling berpotongan..
Menembus ke mana pun tanpa memberitahukan tujuannya..
Bayangan yang samar kini masuk dalam mataku..
Aku harus mampu meraih dunia yang masih belum terlihat..
Aku melekatkan sticker hitam-putih tanpa disengaja..
Dan kita pun menyembunyikan sesuatu yang berharga..
Lebih indah dari bunga, permata dan cahaya bintang..
Impian yang dinamakan Hologram kini mendengung..
Aku tertekan dan ingin melawan pemandangan yang kugambar saat itu..
Penyesalan dan rasa kesepian kini meletus seperti gelembung..
Meski pun aku terpeleset di jalan yang lurus..
Ketika kulitku terkelupas, aku yakin dapat menjadi lebih kuat..
Terpikat oleh pemandangan saat ini yang begitu terang..
Aku pun menuju dunia yang masih belum terlihat..
Dibalik langit yang berkabut..
Ada cahaya warna pelangi..
Dalam bayang-bayang hari esok..
Aku pun gemetaran..
Ada suara yang memanggilku dari kejauhan..
Cahaya lurus itu pun mulai memencar..
Dan tercurah pada sore ketika hujan reda..
Gradiasi yang tak terbatas kini bercampur bersama..
Di mana pun aku berada di bawah langit ini..
Aku harus mampu meraih dunia yang masih belum terlihat..

"Menyelam"

Horison itu kini mulai menghilang..
Aku tak dapat membayangkan hari esok di langit yang biru..
Bahkan tak dapat bernafas dalam kumpulan orang yang beku..
Entah sudah berapa lama aku menyelam di tempat ini..
Mungkin lebih baik melampiaskan kesedihan..
Dan berusaha untuk terus maju..
Namun dengan begitu aku tak dapat jujur..
Meski aku menyerahkan segalanya pada musuhku..
Aku dapat merasakan cahayanya..
Berharap cahaya itu akan menuntunku..
Ketika aku membalik peta dalam pikiranku kemarin malam..
Rasanya terisi oleh pengetahuan yang tidak kumiliki..
Meski pun aku selalu berpikir aku ini kuat..
Aku selalu berpikir aku lebih kuat daripada orang lain..
Seekor angsa yang kemudian tersesat..
Mengapung pada langit malam berbintang..
Meski terasa nyaman, hujan pun mulai turun..
Namun rasanya kita tak dapat seperti itu..
Jika bintang adalah bintang, maka aku juga begitu..
Entah seberapa jauh aku dapat pergi..
Membawa jangkar yang berat, aku mengucap do'a kecil..
Dan meski pun berupa tanda, hujan pun mulai turun..
Aku ingin bernafas namun begitu sulit..
Aku mencari kegelapan yang pekat..
Sebagai penyelam yang takkan muncul ke permukaan..
Meski aku masih hidup, aku harus benar-benar yakin..
Menuju dasar laut yang dalam hanya untuk kali ini saja..
Aku mencoba untuk bernafas..
Jika aku menyadari kebahagiaan, maka aku takkan tenggelam lagi..

Pemuda yang Rusak

Generasi muda menyerahkan segalanya untuk hal yang "mudah"

Bekas luka di sebelah mata kananku mengingatkanku kepada dia.
"Keberhasilan itu datang kepada orang yang telah melangkah lebih dahulu," sejak itu,
Aku ingin tahu perubahan yang datang kepada dirimu?

Apakah keberhasilan itu akibat mantra dari malaikat yang jatuh atau trik murahan dari setan kecil itu?
Sebelum keberhasilan itu, aku sangat pesimis ...

Oleh karena itu, lemparlah pesimismu itu seperti bola bowling
Dan menerima kerusakan atas segalanya
Apakah terlihat kerusakan? kenyataannya tidak
Seperti yang sudah dilakukan sebelumya.

Akhirnya, semua ini menjadi normal
Kau seperti seorang guru, dan kau seperti pengkhianat,

Cita-cita yang kosong dan cinta palsu itu tidak baik
Semuanya itu bodoh dan membuat aku tertawa

Bahkan jika kau setuju untuk berjuang
Dimana ada kejahatan di belakang anak itu
Apakah anak itu akan menimbulkan kerusakan? kenyataanya tidak
Itu adalah cerita kita

tentang arti menerima

Karena itu, lemparlah pesimismu itu seperti bola bowling
Apakah akan merusak ? .. Sekarang aku paham !
Akibat hal tersebut mungkin akan merusak
Tetapi dengan percaya diri dan kekuatan penuh
Kita bisa menyeberangi hal itu
Bersihkan emosimu yang tersebar
Akibat hal tersebut mungkin akan merusak
Tapi kenyataanya tidak, itu adalah keberhasilan kita!

Burung diantara Langit Biru

Kau katakan jika kau bisa terbang,
kau tak akan pernah kembali
menuju ketempat itu, di langit biru

kau tidak pernah ingat "kesedihan"
Baru saja aku mulai untuk memahami "sakit",
bahkan setiap perasaanku ku pasrahkan untukmu
Apakah sekarang hanya akan berubah menjadi kata-kata

Ketika kau terbangun
dari mimpi di dunia yang tak dikenal
Kau langsung terbangun dan terbang pergi
Jadi kau mencoba terbebas dari langit biru itu.
Dengan suara seperti itu semua sudah pergi
jendela tua dan berkaratpun pecah

Lihat, kau begitu muak ketika..
melihat tempat yang telah kau buang
Tanpa pernah melihat ke belakang lagi
getaran yang keras itu mencabut nafasmu
Dan kau menghancurkan jendela yang terbuka
dan meninggalkannya begitu saja

kau berkata bahwa
kau dapat berlari mendapatkannya
kau terpengaruh oleh suara yang sangat jauh
Hal yang menangkap tanganmu yang terlalu menyilaukan
Sampai kau mengejar langit biru itu

Aku mengetahui bahwa kau telah jatuh
Tapi kau masih terus mengikuti cahaya menyilaukan itu

Asa yang Terbawa Angin



Apakah kau pernah menyukaiku? Hal itulah yang kadang aku lamunkan seketika melihat foto gadis impian di tengah hiasan rembulan malam. Sosoknya yang selalu terbayang-bayang seakan membingkai  hati ini. Putri, nama nya seolah mengartikan juga paras wajahnya yang cantik. Make up nya yang sederhana membuat mata ini terbelalak dalam kehampaan sebuah cinta. Namaku Adi, Aku yang hanya berstatus mahasiswa dengan uang pas-pasan seperti tak mampu menjangkau dirinya yang sehari – hari di antar dengan mobil mewah. 

Hari baru pun dimulai, aku telah bersiap-siap untuk berangkat kuliah dengan tampilan seadanya dan semerbak bau minyak wangi melekat di pakaianku. Ketika hampir tiba di kampus, tiba-tiba lewat sebuah mobil mewah yang sepertinya tidak asing lagi bagiku. Oh, ternyata itu mobil antar jemput Putri. Pintu mobil perlahan terbuka dan Putri pun turun.

Dengan agak gugup, ku dekati dia dengan membuang semua rasa malu. Sapaan hangatku membuka awal percakapan di pagi itu.

“Pu-putri, sama-sama aja yuk masuk ke kelas?”,  ajakku dengan agak terbatah-batah
Dia melontarkan senyum indah, seolah-olah ingin membalas pertanyaan itu. Tapi dia terus berjalan kedalam kelas dengan menghiraukanku. 

“Ah, sial” gerutuku kecil. Tapi dengan semangat untuk mendapatkan tempat di hatinya, aku melanjutkan berjalan dengan gagahnya.

Dia yang satu kelas denganku dan yang lebih beruntungnya lagi kursi nya tepat berada di sebelahku. Sesekali aku menyempatkan diri melirik ke arahnya ditengah-tengah pelajaran berlangsung. Seketika aku kaget karena dia menolehkan wajahnya kearahku. Jantung ini berdegup lebih kencang dari biasanya karena malu yang luar biasa.

Waktu terasa bergerak cepat, akhir perkuliahan pun di umumkan.
Tapi putri masih duduk di kursinya, aku terkejut ketika ada air yang mengalir di ujung matanya. Aku penasaran apa yang membuat dia menangis. Tak lama kemudian aku bertanya.

“Loh, kok nangis put? Ada masalah apa?” tanyaku dengan nada sendu.

“Ga apa apa kok, Cuma keinget sama mantanku aja” Jawabnya dengan singkat.

Saat itu juga, pecahan harapan yang kukumpulkan selama ini seakan terlepas dari genggaman. Emosi pun meluap-luap, tak ada lagi yang bisa ku katakan. Aku segera meninggalkan dia di ruangan sendirian tanpa memikirkan apa-apa lagi mengenai dirinya.  

Malam pun tiba, aku kembali terbayang akan situasi pada siang hari tadi. Jujur aku menyesal karena tidak ada sikap dariku untuk menghibur dirinya. Aku hanyalah seorang pengecut dengan impian yang besar. Kulihat jam dinding sudah menunjukkan jam 12.00 malam, hal itu terus menggerayangi pikiran sampai-sampai aku tidak bisa tidur.

Keesokan harinya, 

Tak kulihat mobil yang biasa mengantar putri, begitupun ketika jam perkuliahan. Terdengar kabar bahwa dia sedang tidak enak badan.
Ketika pulang, kusempatkan diri untuk mengunjungi rumahnya. Sampai di depan pintu, aku membunyikan bel dan mengucapkan salam.

“Selamat siang” Berkali-kali aku teriak, dan tak lama kemudian terdengar seseorang membukakan pintu.

“Iya, selamat siang. Mau cari siapa ya?” Ujar seorang ibu yang sudah agak tua bertanya kepadaku. 

“Ehm, mau cari putri bu. Saya teman satu kelasnya, karena tadi saya dengar dia lagi sakit makanya saya datang untuk menjenguk putri” Jelasku agak panjang.

“Oh, sebentar ya saya panggilkan dulu putrinya” Jawab ibu itu dengan nada yang sopan
Tak lama kemudian keluarlah putri mengenakan pakaian rumahnya yang khas, dia terlihat lebih cantik dengan dandanan seperti itu.

“Kamu sakit apa put?” tanyaku langsung padanya.

“Ga kok, aku baik-baik saja. Cuma agak pusing sedikit” paparnya.

“Di, aku sekitar 1 minggu lagi mau pindah ke luar negeri” Sambungnya dari penjelasan tadi.
Aku terkejut kenapa dia memberitahukan hal itu kepadaku.

“Loh, kok tiba-tiba gitu sih? Memangnya mau ngapain keluar negeri?” Tanyaku beruntun.

“Papa ingin memindahkanku kuliah keluar negeri, jadi aku ga bisa apa-apa lagi” Jawabnya pasrah.

Aku pun terdiam sesaat, karena dipikiran ku, aku belum melakukan sesuatu yang berarti kepada dirinya. Yang kulakukan selama ini hanyalah bersembunyi di balik kegelisahan. Beberapa jam kami habiskan untuk saling berbagi cerita, dan salah satunya mengenai alasan kenapa papanya memutuskan hal tersebut secara sepihak. Disatu sisi aku sedih tapi untuk beberapa hari kedepan sebelum keberangkatannya, aku akan berusaha membuat suatu kenangan yang mungkin akan sulit untuk dilupakan. 

Selang beberapa hari semenjak aku mengunjungi keadaan putri, dia telah terlihat baikan. Bahkan dia bisa tersenyum lepas lagi seperti biasanya.

Saat perkuliahan usai tepat di hari itu, aku langsung mengajak putri untuk berjalan-jalan di atas bukit. Kami memandangi indahnya kota dari atas, terlihat raut wajahnya begitu senang. Karena belum ada laki-laki yang mengajaknya ketempat seperti itu.
Tak lama setelah itu, ku beranikan diri untuk mengungkapkan perasaanku kepadanya. Ku dekati dia dan ku pegang tangannya.

“Putri, sebenarnya aku selama ini memendam rasa kepadamu. Aku begitu mencintaimu, tapi selama ini aku sadar bahwa aku bukanlah laki-laki dengan kehidupan yang bergelimang harta.” Ungkapku dengan menggebu-gebu, karena hanya ini hal terakhir yang bisa kulakukan untuknya.

Dia sontak menangis terseduh-seduh, aku bingung. Apa aku salah dalam berucap? Tanyaku dalam hati.
Perlahan bibirnya mulai bergerak untuk mengucapkan sesuatu.

“Adi, Kenapa baru kamu ungkapkan sekarang? Aku selama ini juga mempunyai rasa yang sama seperti dirimu. Aku tak peduli dengan hartamu, asalkan kamu bisa membuatku tersenyum itu sudah membuatku bahagia” Jelasnya kepadaku. Aku terkejut setangah mati mendengar kalimat itu.

“Ya tuhan, kenapa ini terjadi kepadaku. Kenapa keadaan ini tidak kusadari dari dulu!”  Kicauku kesal dalam iringan tangis.

Setelah menenangkan keadaan, kami pun pulang kerumah masing-masing.

Dan keesokan harinya adalah hari dimana putri akan berangkat keluar negeri. Pagi-pagi sekali aku bersiap dan bergegas kerumah Putri untuk menyaksikan keberangkatannya. Tanpa menghiraukan lagi rambu lalu-lintas, aku langsung tancap gas penuh dengan motor bututku. Tak lama kemudian tibalah didepan rumah Putri, tapi tak terlihat satu orang maupun kendaraan yang biasanya terpampang dihalaman rumahnya.

Beberapa detik kemudian terlihat seorang bibi yang sedang membersihkan taman kecil yang ada di lingkungan rumah Putri. Kupanggil bibi itu dan langsung bertanya.

“Bi, numpang nanya nih. Putrinya kemana ya?” Tegasku langsung.

“Oh Putri, baru saja pergi ke bandara dengan keluarganya.” Jawab bibi itu.

Tak berpikir panjang, langsung kupacu sepeda motorku kearah bandara. Setiba di bandara, aku langsung mencari-cari rombongan keluarga Putri. Akan tetapi sudah terlalu banyak orang lalu lalang sehingga sulit bagiku untuk menemukan keberadaannya. Aku sempat lemas tak berdaya, sampai seketika terlihat raut wajah murung Putri lewat didampingi kedua orang tuanya menuju tempat pengantaran terakhir penumpang. Aku langsung menerobos petugas-petugas pemeriksaan yang ada disana.

“Putriiiiii!!” Teriakku panjang memanggil namanya dari jauh. 
Dia sempat menoleh dan air mata pun tak bisa lagi tertahan di matanya. 

“Aku akan selalu disini untuk menunggu kepulanganmu” Lanjut perkataanku.
 Memang dia sempat terhenti sejenak, tapi tak lama kemudian melanjutkan berjalan memasuki pesawat. Aku seperti mengerti perasaannya saat ini. Sakit hati didalam kehidupan yang penuh dengan paksaan. Akhirnya pesawat yang ditumpangi Putri lepas landas menuju negara yang dituju.

Aku pun kembali ke kehidupan awal, kuliah tanpa seseorang yang bisa memotivasiku untuk lebih semangat. Hari demi hari pun kulalui seperti tak ada tujuan.

===== 4 Tahun Berlalu =====
Saat memasuki dunia kerja dan aku mulai melupakan bayang-bayang Putri, hidupku mulai teratur kembali seperti sediakala.

Beberapa saat berlalu, sempat terdengar tentang kepulangan Putri dari luar negeri. Aku antara terlihat senang namun sakit yang lama ini sudah mulai terkubur, perlahan mulai menampakkan lagi jatinya. Karena yang kutahu ada 2 kabar, yaitu kabar baik dan kabar buruk. Kabar baiknya dia akan menetap selama beberapa hari kedepan dirumah lamanya, jadi aku bisa mengunjunginya untuk melepaskan rindu. Dan kabar buruknya Putri telah menikah dengan orang yang pasti lebih baik dariku.
Diberdayakan oleh Blogger.