Fiction Story

Blog ini hanya berisikan tulisan saya, cerpen, dan puisi. Kalo mau yang lain, berkunjung sama yang lebih ahli deh :)

Pemuda yang Rusak

Generasi muda menyerahkan segalanya untuk hal yang "mudah"

Bekas luka di sebelah mata kananku mengingatkanku kepada dia.
"Keberhasilan itu datang kepada orang yang telah melangkah lebih dahulu," sejak itu,
Aku ingin tahu perubahan yang datang kepada dirimu?

Apakah keberhasilan itu akibat mantra dari malaikat yang jatuh atau trik murahan dari setan kecil itu?
Sebelum keberhasilan itu, aku sangat pesimis ...

Oleh karena itu, lemparlah pesimismu itu seperti bola bowling
Dan menerima kerusakan atas segalanya
Apakah terlihat kerusakan? kenyataannya tidak
Seperti yang sudah dilakukan sebelumya.

Akhirnya, semua ini menjadi normal
Kau seperti seorang guru, dan kau seperti pengkhianat,

Cita-cita yang kosong dan cinta palsu itu tidak baik
Semuanya itu bodoh dan membuat aku tertawa

Bahkan jika kau setuju untuk berjuang
Dimana ada kejahatan di belakang anak itu
Apakah anak itu akan menimbulkan kerusakan? kenyataanya tidak
Itu adalah cerita kita

tentang arti menerima

Karena itu, lemparlah pesimismu itu seperti bola bowling
Apakah akan merusak ? .. Sekarang aku paham !
Akibat hal tersebut mungkin akan merusak
Tetapi dengan percaya diri dan kekuatan penuh
Kita bisa menyeberangi hal itu
Bersihkan emosimu yang tersebar
Akibat hal tersebut mungkin akan merusak
Tapi kenyataanya tidak, itu adalah keberhasilan kita!

Burung diantara Langit Biru

Kau katakan jika kau bisa terbang,
kau tak akan pernah kembali
menuju ketempat itu, di langit biru

kau tidak pernah ingat "kesedihan"
Baru saja aku mulai untuk memahami "sakit",
bahkan setiap perasaanku ku pasrahkan untukmu
Apakah sekarang hanya akan berubah menjadi kata-kata

Ketika kau terbangun
dari mimpi di dunia yang tak dikenal
Kau langsung terbangun dan terbang pergi
Jadi kau mencoba terbebas dari langit biru itu.
Dengan suara seperti itu semua sudah pergi
jendela tua dan berkaratpun pecah

Lihat, kau begitu muak ketika..
melihat tempat yang telah kau buang
Tanpa pernah melihat ke belakang lagi
getaran yang keras itu mencabut nafasmu
Dan kau menghancurkan jendela yang terbuka
dan meninggalkannya begitu saja

kau berkata bahwa
kau dapat berlari mendapatkannya
kau terpengaruh oleh suara yang sangat jauh
Hal yang menangkap tanganmu yang terlalu menyilaukan
Sampai kau mengejar langit biru itu

Aku mengetahui bahwa kau telah jatuh
Tapi kau masih terus mengikuti cahaya menyilaukan itu

Asa yang Terbawa Angin



Apakah kau pernah menyukaiku? Hal itulah yang kadang aku lamunkan seketika melihat foto gadis impian di tengah hiasan rembulan malam. Sosoknya yang selalu terbayang-bayang seakan membingkai  hati ini. Putri, nama nya seolah mengartikan juga paras wajahnya yang cantik. Make up nya yang sederhana membuat mata ini terbelalak dalam kehampaan sebuah cinta. Namaku Adi, Aku yang hanya berstatus mahasiswa dengan uang pas-pasan seperti tak mampu menjangkau dirinya yang sehari – hari di antar dengan mobil mewah. 

Hari baru pun dimulai, aku telah bersiap-siap untuk berangkat kuliah dengan tampilan seadanya dan semerbak bau minyak wangi melekat di pakaianku. Ketika hampir tiba di kampus, tiba-tiba lewat sebuah mobil mewah yang sepertinya tidak asing lagi bagiku. Oh, ternyata itu mobil antar jemput Putri. Pintu mobil perlahan terbuka dan Putri pun turun.

Dengan agak gugup, ku dekati dia dengan membuang semua rasa malu. Sapaan hangatku membuka awal percakapan di pagi itu.

“Pu-putri, sama-sama aja yuk masuk ke kelas?”,  ajakku dengan agak terbatah-batah
Dia melontarkan senyum indah, seolah-olah ingin membalas pertanyaan itu. Tapi dia terus berjalan kedalam kelas dengan menghiraukanku. 

“Ah, sial” gerutuku kecil. Tapi dengan semangat untuk mendapatkan tempat di hatinya, aku melanjutkan berjalan dengan gagahnya.

Dia yang satu kelas denganku dan yang lebih beruntungnya lagi kursi nya tepat berada di sebelahku. Sesekali aku menyempatkan diri melirik ke arahnya ditengah-tengah pelajaran berlangsung. Seketika aku kaget karena dia menolehkan wajahnya kearahku. Jantung ini berdegup lebih kencang dari biasanya karena malu yang luar biasa.

Waktu terasa bergerak cepat, akhir perkuliahan pun di umumkan.
Tapi putri masih duduk di kursinya, aku terkejut ketika ada air yang mengalir di ujung matanya. Aku penasaran apa yang membuat dia menangis. Tak lama kemudian aku bertanya.

“Loh, kok nangis put? Ada masalah apa?” tanyaku dengan nada sendu.

“Ga apa apa kok, Cuma keinget sama mantanku aja” Jawabnya dengan singkat.

Saat itu juga, pecahan harapan yang kukumpulkan selama ini seakan terlepas dari genggaman. Emosi pun meluap-luap, tak ada lagi yang bisa ku katakan. Aku segera meninggalkan dia di ruangan sendirian tanpa memikirkan apa-apa lagi mengenai dirinya.  

Malam pun tiba, aku kembali terbayang akan situasi pada siang hari tadi. Jujur aku menyesal karena tidak ada sikap dariku untuk menghibur dirinya. Aku hanyalah seorang pengecut dengan impian yang besar. Kulihat jam dinding sudah menunjukkan jam 12.00 malam, hal itu terus menggerayangi pikiran sampai-sampai aku tidak bisa tidur.

Keesokan harinya, 

Tak kulihat mobil yang biasa mengantar putri, begitupun ketika jam perkuliahan. Terdengar kabar bahwa dia sedang tidak enak badan.
Ketika pulang, kusempatkan diri untuk mengunjungi rumahnya. Sampai di depan pintu, aku membunyikan bel dan mengucapkan salam.

“Selamat siang” Berkali-kali aku teriak, dan tak lama kemudian terdengar seseorang membukakan pintu.

“Iya, selamat siang. Mau cari siapa ya?” Ujar seorang ibu yang sudah agak tua bertanya kepadaku. 

“Ehm, mau cari putri bu. Saya teman satu kelasnya, karena tadi saya dengar dia lagi sakit makanya saya datang untuk menjenguk putri” Jelasku agak panjang.

“Oh, sebentar ya saya panggilkan dulu putrinya” Jawab ibu itu dengan nada yang sopan
Tak lama kemudian keluarlah putri mengenakan pakaian rumahnya yang khas, dia terlihat lebih cantik dengan dandanan seperti itu.

“Kamu sakit apa put?” tanyaku langsung padanya.

“Ga kok, aku baik-baik saja. Cuma agak pusing sedikit” paparnya.

“Di, aku sekitar 1 minggu lagi mau pindah ke luar negeri” Sambungnya dari penjelasan tadi.
Aku terkejut kenapa dia memberitahukan hal itu kepadaku.

“Loh, kok tiba-tiba gitu sih? Memangnya mau ngapain keluar negeri?” Tanyaku beruntun.

“Papa ingin memindahkanku kuliah keluar negeri, jadi aku ga bisa apa-apa lagi” Jawabnya pasrah.

Aku pun terdiam sesaat, karena dipikiran ku, aku belum melakukan sesuatu yang berarti kepada dirinya. Yang kulakukan selama ini hanyalah bersembunyi di balik kegelisahan. Beberapa jam kami habiskan untuk saling berbagi cerita, dan salah satunya mengenai alasan kenapa papanya memutuskan hal tersebut secara sepihak. Disatu sisi aku sedih tapi untuk beberapa hari kedepan sebelum keberangkatannya, aku akan berusaha membuat suatu kenangan yang mungkin akan sulit untuk dilupakan. 

Selang beberapa hari semenjak aku mengunjungi keadaan putri, dia telah terlihat baikan. Bahkan dia bisa tersenyum lepas lagi seperti biasanya.

Saat perkuliahan usai tepat di hari itu, aku langsung mengajak putri untuk berjalan-jalan di atas bukit. Kami memandangi indahnya kota dari atas, terlihat raut wajahnya begitu senang. Karena belum ada laki-laki yang mengajaknya ketempat seperti itu.
Tak lama setelah itu, ku beranikan diri untuk mengungkapkan perasaanku kepadanya. Ku dekati dia dan ku pegang tangannya.

“Putri, sebenarnya aku selama ini memendam rasa kepadamu. Aku begitu mencintaimu, tapi selama ini aku sadar bahwa aku bukanlah laki-laki dengan kehidupan yang bergelimang harta.” Ungkapku dengan menggebu-gebu, karena hanya ini hal terakhir yang bisa kulakukan untuknya.

Dia sontak menangis terseduh-seduh, aku bingung. Apa aku salah dalam berucap? Tanyaku dalam hati.
Perlahan bibirnya mulai bergerak untuk mengucapkan sesuatu.

“Adi, Kenapa baru kamu ungkapkan sekarang? Aku selama ini juga mempunyai rasa yang sama seperti dirimu. Aku tak peduli dengan hartamu, asalkan kamu bisa membuatku tersenyum itu sudah membuatku bahagia” Jelasnya kepadaku. Aku terkejut setangah mati mendengar kalimat itu.

“Ya tuhan, kenapa ini terjadi kepadaku. Kenapa keadaan ini tidak kusadari dari dulu!”  Kicauku kesal dalam iringan tangis.

Setelah menenangkan keadaan, kami pun pulang kerumah masing-masing.

Dan keesokan harinya adalah hari dimana putri akan berangkat keluar negeri. Pagi-pagi sekali aku bersiap dan bergegas kerumah Putri untuk menyaksikan keberangkatannya. Tanpa menghiraukan lagi rambu lalu-lintas, aku langsung tancap gas penuh dengan motor bututku. Tak lama kemudian tibalah didepan rumah Putri, tapi tak terlihat satu orang maupun kendaraan yang biasanya terpampang dihalaman rumahnya.

Beberapa detik kemudian terlihat seorang bibi yang sedang membersihkan taman kecil yang ada di lingkungan rumah Putri. Kupanggil bibi itu dan langsung bertanya.

“Bi, numpang nanya nih. Putrinya kemana ya?” Tegasku langsung.

“Oh Putri, baru saja pergi ke bandara dengan keluarganya.” Jawab bibi itu.

Tak berpikir panjang, langsung kupacu sepeda motorku kearah bandara. Setiba di bandara, aku langsung mencari-cari rombongan keluarga Putri. Akan tetapi sudah terlalu banyak orang lalu lalang sehingga sulit bagiku untuk menemukan keberadaannya. Aku sempat lemas tak berdaya, sampai seketika terlihat raut wajah murung Putri lewat didampingi kedua orang tuanya menuju tempat pengantaran terakhir penumpang. Aku langsung menerobos petugas-petugas pemeriksaan yang ada disana.

“Putriiiiii!!” Teriakku panjang memanggil namanya dari jauh. 
Dia sempat menoleh dan air mata pun tak bisa lagi tertahan di matanya. 

“Aku akan selalu disini untuk menunggu kepulanganmu” Lanjut perkataanku.
 Memang dia sempat terhenti sejenak, tapi tak lama kemudian melanjutkan berjalan memasuki pesawat. Aku seperti mengerti perasaannya saat ini. Sakit hati didalam kehidupan yang penuh dengan paksaan. Akhirnya pesawat yang ditumpangi Putri lepas landas menuju negara yang dituju.

Aku pun kembali ke kehidupan awal, kuliah tanpa seseorang yang bisa memotivasiku untuk lebih semangat. Hari demi hari pun kulalui seperti tak ada tujuan.

===== 4 Tahun Berlalu =====
Saat memasuki dunia kerja dan aku mulai melupakan bayang-bayang Putri, hidupku mulai teratur kembali seperti sediakala.

Beberapa saat berlalu, sempat terdengar tentang kepulangan Putri dari luar negeri. Aku antara terlihat senang namun sakit yang lama ini sudah mulai terkubur, perlahan mulai menampakkan lagi jatinya. Karena yang kutahu ada 2 kabar, yaitu kabar baik dan kabar buruk. Kabar baiknya dia akan menetap selama beberapa hari kedepan dirumah lamanya, jadi aku bisa mengunjunginya untuk melepaskan rindu. Dan kabar buruknya Putri telah menikah dengan orang yang pasti lebih baik dariku.

Antusiasme Pria Sejati

Aku merupakan salah satu mahasiswa sebuah perguruan tinggi negeri di Sumatera Selatan, namaku J. Di kampus biasanya orang memanggilku dengan sebutan "Pujangga Cinta", itu dikarenakan pergerakanku yang terlalu bersemangat dalam mencari CINTA :D. Tak lepas dari itu, aku seringkali di permainkan teman-teman 1 kelas dengan guyonan yang sedikit agak JLEB. Pagi itu, aku bersama seorang yang bisa dikatakan sahabatku "sebut saja Jokowi" pergi bersama ke kampus. Tapi walaupun di katakan seorang sahabat, dia ternyata juga tak segan-segan mem-bully ku. Langkah kakipun tak berasa sampai ketika sudah berada di kampus, terlihat teman-teman sedang berkumpul d luar kelas.

 --Tiba-tiba-- *dengan backsound horror*
"Woi J, mana tuh inceran lo?" salah satu dari mereka menyapa dengan tawa terbahak-bahak.
Aku menoleh sedikit dengan muka masam dan melanjutkan untuk masuk ke dalam kelas.
Sahabatku pun ikut tertawa tanpa memikirkan perasaanku yang tersiksa ini.
"Jokowi, aku duduk disana ya" dengan memasang wajah chubby aku meletakkan tas ke kursi tujuanku
"Loh, ga mau di sebelahku ya?" jawabnya dengan nada agak kecewa. Tapi aku tahu di dalam pikiran nya, sudah tersimpan niat untuk mem-bully di tengah2 jam perkuliahan.
"Ntar aja deh, nunggu aku dapet pacar. Hahaha" candaku padanya.

Dikelas kami, semua anak seperti membuat grup dalam pertemanan. Dan dari setiap grup didalam kelas terdapat inceranku *maruk banget kan? :D*.

Hari ini sebenarnya saya sudah menyusun rencana untuk menembak salah satu cewek *entah di grup yang mana* *Sebut saja Mawar*.   Pada jam istirahat, dia terlihat sedang duduk sendiri di dalam kelas. Aku pun bergegas duduk disampingnya.

"Mawar, ada yang mau ku omongin nih" tatapku dengan wajah dengan keringat yang "bochor".
"Hmm? Mau ngomong apaan?" jawabnya dengan santai.
"Gini, sebenarnya aku sudah lama suka sama kamu. Dimanapun kamu berada, aku selalu memperhatikan kamu. Jadi, kamu mau ga ngelepas status lajangmu denganku?" dengan agak lebay dan berkeringat yang hampir kayak banjir akhir-akhir ini aku bertanya.
Dia terlihat agak kaget mendengar pengutaraan cintaku. Beberapa menit kami sempat tak mengeluarkan kata-kata.
"Anuu.." jawabnya terputus. Baru 1 kata keluar, tapi jantung uda kayak mau lepas.
"Aku belum boleh pacaran sama ortu. Maaf ya" sambungnya dengan menggunakan alasan klasik yang biasa digunakan untuk menolak seorang pria secara tidak langsung. 
Aku paham betul dengan jawaban seperti itu, karena pengalaman ku sudah di level "Hard" dalam penolakan *Sedih banget ya*.
"Yah udahlah gapapa kalo itu memang kehendak ortu mu" jawabku tersenyum. Karena sudah terbiasa di tolak, jadi santai aja deh. Aku pun mencari-cari alasan untuk beranjak dari tempat itu karena alasan harga diri. #Cuihh

Yah setidaknya ituah gambaran dari sebutan "Pujangga Cinta" yang di bilang sama teman-temanku. Penolakan itu terus terulang disetiap wanita yang berbeda. Aku seperti terkena kutukan dewa romawi *lebay, alay, ngaco".




NOTE: Apabila terdapat kesamaan nama dan karakter, itu namanya takdir.







Tenshi, I'm Hurt !

Malaikat, selama ini kurasakan terus bersanding di sampingmu. Keindahan lekuk sayapmu menyempurnakan kekagumanku padamu. Dirimu terbang tinggi membelah langit menjadi dua bagian. Ketika ku pandangi matamu yang tajam bagaikan ujung sebuah "KATANA" yang siap merobek mental siapapun yang berani melihatmu. Diriku sempat ragu, gentar, bimbang dan tatkala berpikir bagaimana menaklukan mata itu. Saat malam hari datang, tanpa kamu sadari aku terus memandangimu meskipun hujan yang deras memudarkan sosokmu dari hadapanku. Kamu yang asik dengan pekerjaanmu sebagai malaikat terkadang membuat diri ini terus terasa sepi. 



Hujan turun seperti biasanya, tapi hati berkata lain dan ingin menyendiri. Suara gemuruh petir membuatku takut, aku terus tertunduk dengan pikiran yang kosong. Tak ada lagi cahaya, tak ada lagi sorotan mata itu, tak ada lagi perasaan hati yang berdegup kencang. Semua terasa datar mengalahkan tenangnya sebuah lautan. Dingin semakin meradang dan aku telah terbiasa dalam kesendirian ini. Rautan sebuah wajah murung itu tak lagi menempel di bagian kepala ini, senyum penderitaan pun datang tanpa henti. 

Suatu ketika kamu terbang melewati tempatku, bagian bulumu tak sengaja lepas dan berlabuh di persinggahanku. Memori yang selama ini hampir terkubur dalam, akhirnya kembali menyeruak. Aku tak bisa menahan rindu, dia tak tahu betapa berharganya sebuah bulu tersebut bagiku. Aku menderita di dalam dilema seorang manusia. Ku tahu ku tak bisa meraihmu di ketinggian, tapi biarkanlah bulu- bulu itu terus berjatuhan dan pada akhirnya akan habis. Dan pada saat itu kamu akan merasakan bagaimana sesuatu yang berharga bagimu telah hilang. 


Aku berharap dulunya, kamu bisa duduk di depanku, mendengarkan keluh kesahku, saling bertatap mata. Tapi itu semua hanya sebuah mimpi.

Kini aku telah memegang sebuah kunci untuk beranjak ke sebuah dimensi baru. Tapi aku masih berharap untuk yang terakhir kalinya ketika lewat, kamu akan berhenti dan mengetahui bahwa bulu - bulu yang selama ini berharga bagimu telah ku susun rapi dan telah siap untuk kamu ambil kembali dari persinggahanku :)

Sisi Putih dari Kegelapan

 LINstory -

Saat dunia mulai terkecoh dengan sandiwara mahluknya, aku masih tetap disini dengan pendirian yang tegar. Kefanaan dunia ini sudah terlihat begitu jelas ketika angin membawa semua bersamanya. Rerumputan hijau yang ditiup seakan tertawa terbahak-bahak dikala aku dirundung rasa gelisah, bunga yang ku rawat hampir setiap hari pun layu karena tak sanggup melawan waktu. Aura kesedihan terus bergejolak tatkala arang yang dibakar terus menerus sampai menjadi abu. Genggaman tangan ini semakin melemah, tak ada setetes air yang memberikan kehidupan nyata. Sungai yang selama ini kukagumi perlahan mulai surut. Entah itu karena hujan yang tak kunjung turun atau terlalu besarnya muara yang dilewati sampai-sampai ranting-ranting yang hanyut tak sempat berlabuh. 

Gurauan hewan di sekitarku terkadang membuatku seperti lampu yang akan putus, mati dan kemudian hidup kembali berharap ada keajaiban yang datang menolong. Disaat asa ku mulai padam, angin datang dengan sesukanya menghujam kehampaan ini, ia dengan seenaknya memporak-porandakan hati yang awalnya kupercaya mampu terus bertahan dengan keadaan yang terpuruk. Tak jarang kegelapan lah yag lebih mengerti tentang buruknya dunia ini, bersandar di belakangku, seolah olah ingin menceritakan bahwa ia tak seperti yang orang pikirkan. Ia mengajari bagaimana cara bertahan hidup dan mendewasakan aku dengan ucapan-ucapan bijak nya. 

Begitu juga dengan bintang yang selama ini kupercaya mampu memberikan celotehannya, sekarang tak mampu lagi berdiri tegak mendampingi malam. Aku kecewa, kesal, bahkan hampir meninggalkan tempat itu. Tapi sesekali aku melihat bayangan yang mengindahkan dirimu yang mengubah cara pandangku. Aku tak tahu sampai kapan bayangan itu akan melekat dan terus mempengaruhiku. Aku yang hanya manusia lemah, tak bisa apa-apa menghadapi takdir Tuhan.

Cerminan Diri

LINstory - 

Memang pada awalnya, dunia ini hanyalah tanah yang tidak berisikan kehidupan. Namun saat ini terus bermunculan manusia-manusia, begitu banyak dan berpasang-pasangan. Aku yang melihat itu dari jendela rumah, hanya bisa terdiam tanpa ekspresi. Sesaat aku melihat kecermin, kurasakan aura hitam yang melekat pekat di sekitar tubuh. Tak ada yang menyadari akan kehadiranku. Selalu sendiri sampai kapanpun. 



Sesekali angin terdengar berbisik-bisik di telingaku, mengajakku ke alam luar yang katanya sangat menyenangkan. Aku mencoba melangkahkan kaki keluar dari rumah itu, tapi sama seperti yang kurasakan sebelumnya. Walaupun banyak orang disampingku, kehadiranku tetap tak bisa dirasakan. Sedih? mungkin, kecewa apalagi. Semua itu berjalan begitu lamban, tak ada cahaya terang menyinari. Hatiku pada saat ini seperti lapisan es yang begitu tipis dan akan hancur walaupun tersentuh oleh jemari. Semua yang kulakukan selama ini terasa sia-sia, tak ada letak kepedulian mereka terhadapku. Aku seperti terbakar dalam neraka bayangan, bahkan serasa tak sebanding dengan hewan-hewan yang masih bisa tersenyum dalam penderitaannya. Sebegitukan dunia ini memperlakukanku? atau memang semuanya harus ku ulangi dari awal?.

Bahkan terlebih lagi orang yang hampir berada di dekatku pun tak jauh beda dengan yang lainnya, dia yang kupercaya seakan tak bisa merasakan radang kesepian di tubuhku. Mereka asik mengejar mimpi masing-masing, sedangkan aku hanya tertinggal di belakang seorang diri. Tak ada yang mau berpaling muka apalagi menjulurkan tangannya untuk membuatku terasa hidup.

Pintu yang kupercaya dapat membawaku keluar dari temaram ini perlahan-lahan mulai tertutup kembali. Aku hanya bisa mengkerutkan wajahku dan menunggu seseorang atau bahkan beberapa orang mencoba untuk membuka pintu itu.
Diberdayakan oleh Blogger.